Administrator 05 Jun 2025 1.7k Share

SEJARAH SINGKAT KELURAHAN PLOSOKEREP

Pada zaman dahulu kala sekitar tahun 1824, ada 3 (tiga) orang bersaudara yang bernama Singodongso, Morodongso, dan Sirodongso menetap pada suatu wilayah atau hutan yang rimbun. Hutan tersebut banyak terdapat Pohon Ploso yang sangat lebat. Kemudian ketiga orang tersebut memutuskan untuk memotong habis / membabat Pohon Ploso tersebut untuk dijadikan tempat tinggal. Karena wilayah yang begitu luas pada saat itu kemudian mereka menamakan daerah tersebut “PLOSOKEREP” yang diambil dari 2 (dua) kata yaitu “Ploso” dan “Kerep”. Ploso sendiri artinya Pohon Ploso yang tumbuh memenuhi wilayah tersebut, sedangkan Kerep artinya lebat atau sering. Oleh karena itu Plosokerep berarti dulunya adalah wilayah yang terdapat Pohon Ploso yang sangat lebat. Pada awalnya Desa Plosokerep hanya terdapat 1 (satu) lingkungan saja yaitu lingkungan Plosokerep itu sendiri. Kemudian berkembang seiring jalannya waktu sampai sekarang menjadi 4 (empat) lingkungan yaitu lingkungan Plosokerep, Cabean, Njlimut, dan Genengan. Menurut cerita tokoh masyarakat yang ada, sejarah terbentuknya lingkungan lainnya adalah ketika beliau bertiga yakni Singodongso, Morodongso, dan Sirodongso melakukan perjalanan ke arah selatan, kemudian menemukan Tjap bergambar Eyang (Tjap Eyang) maka daerah tersebut dinamakan daerah Tjap Eyang namun kemudian masyarakat menyebutnya Cabean yang dikenal sampai saat ini. Perjalanan kemudian dilanjutkan oleh 3 (tiga) bersaudara ini ke arah barat, sambil memikirkan apa arti penemuan Tjap Bergambar Eyang ini  sampai Njlimet (pusing) namun tidak menemukan artinya, sehingga mereka menamakan daerah tersebut Njlimet yang kemudian oleh masyarakat sekarang menyebutnya lingkungan Njlimut. Belum puas dengan perjalanan yang dilakukan, kemudian berlanjut lagi ke arah selatan melewati wilayah yang Geneng-Geneng (Berundak-Undak) yang kemudian daerah tersebut diberi nama Lingkungan Genengan sampai dengan sekarang.

Setahun setelah berdirinya Desa Plosokerep , Tepatnya Pada Tahun 1825 Singodongso, Morodongso, dan Sirodongso kedatangan seorang laskar  Diponegoro dan beberapa pengikutnya yakni bernama Iro Dikoro yang menjadi buronan Belanda.  Beliau adalah Bupati Demak, pada saat itu kedudukan sebagai Bupati adalah dibawah kekuasaan penjajah Belanda. Didalam kepemimpinannya Belanda terus memacu dan merubah keadaan  situasi maupun kondisi dibeberapa tempat, sehingga bagi mereka yang tidak cocok atas kepemimpinannya,  mereka tidak puas dan mengadakan pertentangan – pertentangan sehingga sekitar kurang lebih tahun 1825 pecahlah perang melawan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro untuk menuntut keadilan dan kemanusiaan.

Karena begitu luhur tujuan Bangsa Indonesia yakni mengusir penjajah, rupanya tidak mau ketinggalan bagi Iro Dikoro(Bupati Demak) tersentuh hatinya dan kemudian mereka bergabung dengan laskar Pangeran Diponegoro, untuk mengusir penjajah Belanda.  Sudah barang tentu konsekuensinya dia meninggalkan jabatannya sebagai Bupati. Dikarenakan laskar Pangeran Diponegoro kurang mampu menghadapi lawan yang begitu tangguh  dan sigap, sehingga mereka kalah dan keadaan semakin susah. Pangeran Diponegoro kemudian tertangkap oleh Belanda dan diasingkan di Ujung Pandang, Makassar sedangkan laskar Pangeran Diponegoro kocar – kacir dan banyak yang melarikan diri, salah satunya termasuk Iro Dikoro yang melarikan diri menuju Jawa Timur tepatnya di Desa Plosokerep.

Takdir  telah menjadi suratan Tuhan, Iro Dikoro kemudian dikawinkan dengan Putri Mbah Singodongso yang bernama Nyai Kerto. Setelah menikah mereka kemudian berganti nama, masing-masing yaitu Iro Dikoro berganti nama H. Abdul Syakur, sedangkan Nyai Kerto berganti Mbah Buyut. Iro Dikoro  / H. Abdul Syakur beserta pengikutnya adalah muslim yang taat sehingga memerlukan sarana prasarana untuk tempat beribadah dan belajar untuk memperdalam ilmu Agama Islam, akhirnya didirikanlah bangunan Langgar yang didesain panggung (Gantung) dengan kontruksi bangunan dari bahan kayu jati sebagai penyangga (soko), juga untuk atap dan lantainya, sedangkan untuk dinding dan plafon terbuat dari anyaman bambu (bahasa jawa Gedeg). Sebagai teknisi bangunan, Iro Dikoro mendatangkan perajin dari Jepara untuk mengerjakan kayu berukir sebagai ornamen Imaman, sekaligus membuat gebyok kayu berukir untuk bangunan rumah induk keluarga Iro Dikoro yang sampai saat ini masih ditempati keturunan Almarhum KH. Abu Said. 

Langgar/Mushola tersebut sengaja di desain panggung, karena pada waktu itu Desa Plosokerep masih berupa hutan yang dikelilingi tanaman liar, juga untuk menghindari binatang buas, serta dampak Gunung Kelud jika meletus, sebab aliran laharnya dapat mengalir sampai di Desa Plosokerep. Langgar Gantung ini adalah satu-satunya bangunan untuk kegiatan keagamaan dan sosial pada waktu itu, karena selain sebagai tempat beribadah sholat berjamaah lima waktu maupun sholat Jum’at sebelum Masjid Ussisa Littaqwa didirikan pada Tahun 1935, Langgar Gantung juga menjadi tempat pengungsian letusan Gunung Kelud pada saat itu.  Langgar bersejarah ini kemudian dikenal sebagai Langgar Gantung atau sekarang diberi nama Mushola An-Nur yang berada di Jalan Kemuning Kelurahan Plosokerep Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. 

 

KEPALA DESA / KEPALA KELURAHAN / LURAH PLOSOKEREP DARI MASA KE MASA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

 

No.

NAMA

MASA JABATAN (Tahun)

KETERANGAN

1.Djojoreso-Kepala Desa
2.Iro-Kepala Desa
3.MunandarSampai Th. 1940Kepala Desa
4.Yasin1940 s/d 1945Kepala Desa
5.Muslan1945 s/d 1950Kepala Desa
6.Muslich Achmad1950 s/d 1973Kepala Desa
7.Koeslan1973 s/d 1988Kepala Kelurahan
8.Hariyono1988 s/d 1995Kepala Kelurahan
9.Tugiyo1995 s/d 2002Kepala Kelurahan
10.Drs. Sujono2002 s/d 2007Kepala Kelurahan
11.Moh. Yusuf, S.H2007 s/d 2008Lurah
12.Nanang Purwoko, S.Sos2008 s/d 2009Lurah
13.M. Kholik Mukti, S.Sos2009 s/d 2013Lurah
14.Agus Sumaryono, S.Pd2013 s/d 2017Lurah
15.Wiwik Sri Widayati, S.E2017 s/d 2019Lurah
16.Reyza Pahlevy Genda, S.STP., M.M2019 s/d 2021Plt. Lurah
17.Reyza Pahlevy Genda, S.STP., M.M2021 s/d sekarangLurah

Berita Populer

Kelurahan Berencana Membangun Pagar Kubur..

by Administrator | 17 Feb 2020

Walikota Blitar Bagi Paket Sembako

by Administrator | 17 Feb 2020

Kelurahan Plosokerep Bangun Tempat Wudhu ..

by Administrator | 17 Feb 2020

Pembangunan Drainase, Tunggu Juknis Pelak..

by Administrator | 17 Feb 2020

Plosokerep Agendakan Pelatihan Salon Bagi..

by Administrator | 17 Feb 2020